Ada sebuah hikayat untuk tidak 'terlalu mendengarkan ucapan orang' jika kita dalam kebenaran, jika kita dalam kebenaran maka jangan terlalu memikirkan ucapan orang, nanti menjadi gila, karena pernah terjadi ada sebuah hikayat dalam ilmu ushul.
Terdapatlah seorang lelaki yang lanjut usia, bersama anaknya yang masih kecil mereka ke sebuah pasar untuk membeli seekor keledai, maka sang bapak naik ke atas keledai dan anak menuntunnya. Ketika dalam perjalanan, orang-orang di sekitar mereka protes: "Dasar bapak tidak punya rasa sayang, anaknya yang masih kecil dibiarkan berjalan, dia malah naik di atas keledai".
Mendengar ucapan itu, sang bapak turun kemudian meminta anaknya untuk menaiki keledai, maka sesampainya di perkampungan yang lain, suara protes terdengar lagi: "Anak tidak tau adab, bapaknya sudah tua renta disuruh berjalan, si anak malah enak di atas keledai".
Maka sang bapak berkata: "Nak, turunlah kita berjalan saja", maka mereka berdua berjalan kaki, maka sampai di kampung lain, diprotes lagi: "Keledai sudah dibeli, tapi tidak ditumpangi, sungguh tidak waras!".
Maka sang ayah berkata: "Salah lagi kita nak, ya sudah kita naiki berdua saja", maka naiklah mereka berdua ke atas keledai, sesampainya di suatu perkampungan, diprotes lagi: "Sungguh kejamnya orang ini menyiksa hewan, satu keledai ditunggangi berdua".
Maka sang ayah berkata: "Kita salah lagi nak, jadi kita apakan keledai ini?"
Akhirnya sang bapak berkata: "Sudahlah nak, kita pikul saja keledai ini, biarkan orang mau berkata apa". Jadi gila akhirnya orang itu, karena keledainya mereka angkat bersama.
Jangan terus memikirkan ucapan orang, tetapi jangan berbuat salah. Kita berbuat sesuatu yang benar, setelah itu biarkan orang mau berbicara apa, karena terkadang kita benar pun tetap salah di dalam pandangan orang lain. Kita berusaha saja dalam kebenaran dan selanjutnya jangan memikirkan perkataan orang.
